Islam Untuk Semua Umat

Showing posts with label tashawuf. Show all posts
Showing posts with label tashawuf. Show all posts
Thursday, December 19, 2013

Harga Surga

Allah SWT menjelaskan keberadaan surga, sifat-sifatnya, macam-macamnya, dan kriteria para (calon) penghuninya secara tekstual dalam sejumlah ayat Alquran. Allah menjelaskan, surga itu sudah selesai diciptakan.

Allah menjelaskan, surga itu luasnya seluas langit dan bumi. Surga itu bermacam-macam, antara lain, Firdaus, ‘Adn, Na’im, dan Ma’wâ. Dan, surga diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, juga bagi mereka yang bertakwa.

Selain itu, Allah menjelaskan, surga itu merupakan tempat kembali yang paling baik dan paling menyenangkan. Tak sebatas itu, surga merupakan tempat yang langgeng, kekal, dan abadi. Surga bertingkat-tingkat.

“Tidaklah sama antara orang-orang mukmin duduk (yang tidak ikut berperang) tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Yaitu), beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa [4] : 95 - 96).

Ibnu Jarir menyebutkan dari Hisyam bin Hassan dari Jablah bin ‘Athiyah dari Ibnu Mahiriz bahwa derajat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah 70 derajat dan jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah sejauh lari kuda balap selama 70 tahun.

Dhahhak menambahkan, sebagian dari mereka lebih mulia daripada yang lainnya. Mereka yang lebih mulia dapat melihat kelebihan mereka dari yang lainnya dan yang di bawah mereka tidak melihat kalau ada orang lain yang lebih mulia dibandingkan mereka.

Dalam sebuah hadis dari Malik dari Shafwan bin Salim dari Atha bin Yasar dari Abu Sa’id Al-Khudhri dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya para penghuni surga tentu melihat para penghuni ghuraf (kamar atau bangunan) dari atas mereka sebagaimana mereka melihat bintang yang berkilauan jauh di ufuk timur atau barat lantaran perbedaan derajat mereka. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ghuraf itu hanya disediakan bagi para nabi dan tidak bisa dihuni selain mereka?” Rasulullah SAW bersabda, “Benar. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ghuraf itu bisa juga dihuni oleh mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul-Nya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi).

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah mengomentari redaksi Bukhari yang memilih menggunakan kata fi al-ufuq sebagai sangat tepat. Dia pun mengemukakan beberapa alasannya. Pertama, menunjukkan betapa jauhnya bintang-bintang tersebut dari penglihatan manusia.

Kedua, menunjukkan betapa jauhnya derajat surga yang satu dengan derajat lainnya. Hal itu dimaksudkan untuk membedakan derajat para penghuninya. Kendati demikian, mereka yang menghuni surga pada ghuraf yang tinggi tidak merasa lebih bangga dari mereka yang menghuni ghuraf di bawahnya.

Mereka nyaman dengan keberadaannya laksana perkebunan yang memanjang dari bagian atas gunung ke bagian di bawahnya.

Diriwayatkan dari Atha bin Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah SAW menjelaskan, “Sesungguhnya surga itu terdiri atas 100 derajat.” (Kelanjutan dari hadis Mu’adz bin Jabal).

Dan, dalam riwayat lainnya dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menyebutkan, “Di dalam surga itu terdapat 100 derajat. Antara satu derajat dengan derajat lainnya jaraknya 100 tahun perjalanan.” (HR Tirmidzi).

Dalam Shifatu al-Jannati dikutip sebuah hadis dari Aban dari Anas bin Malik RA, suatu hari ada seorang Badui menghadap Rasulullah SAW dan bertanya, “Apa harga surga itu?” Rasulullah SAW menjawab, “(Kalimat) la ilaha illallah.”


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Mahmud Yunus




Lintas Islam aqidah, fiqh, tashawuf
Thursday, November 14, 2013

Kekekalan Massa


Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."

Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.

"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"

Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"

Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,

"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Monday, November 11, 2013

Belajar Kebijaksanaan


 Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. "Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sonya.

"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasrudin.

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Ah, konsistensi.


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Thursday, November 7, 2013

Pada Sebuah Kapal


Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.

"Teman-teman!" teriak Nasrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Monday, November 4, 2013

Pelayan Raja



Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.

"Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya raja kepada Nasrudin.
"Teramat baik, Tuanku."

Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak:

"Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!"
"Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku." ujar Nasrudin.
"Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik."
"Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran."


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Thursday, October 31, 2013

Penyelundup


Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. "Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?"

"Jubah," kata Nasrudin, serius.


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Monday, October 28, 2013

Periuk Beranak


Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.

"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."

Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."

Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"

"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf
Thursday, October 24, 2013

Perusuh Rakyat



Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.

"Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nasrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]

"Mengapa ?" tanya Nasrudin.

"Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"

"Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"

"Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"

"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.


Kisah Kisah Nasruddin Hoja




Lintas Islam humor, tashawuf