Islam Untuk Semua Umat

Thursday, January 17, 2013

Ujian Nabi Ayyub


Makam Nabi Ayyub AS

Perlu diketahui bahwa cobaan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Ayyub a.s. adalah terdiri dari empat macam cobaan.

Meliputi cobaan atas kebangkrutan (pailit) kekayaannya, kematian semua anak-anaknya, kerusakan pada tubuhnya dan diasingkan oleh masyarakat kecuali hanya istrinya saja yang setia menemani.

Kehancuran harta kekayaan Nabi Ayyub a.s. terdiri dari unta, sapi, kambing, gajah, khimar (keledai). Kekayaan lain milik  Beliau adalah 500 hektar tanah persawahan, semuanya digarap oleh 500 orang, pada setiap orang mempunyai anak istri. Pengikut Beliau terdiri dari 3 golongan semua telah beriman dan masih berusia muda.

Iblis yang diberikan kekuasaan oleh Allah SWT dapat turun naik dari bumi ke langit sewaktu dikehendaki, mempunyai maksud naik ke langit. Tiba-tiba Iblis mendengar para malaikat membaca Sholawat atas Nabi Ayyub a.s. Saat itu juga timbullah rasa hasud di dalam hatinya. Ia berkata memohon kepada Allah SWT: “Wahai tuhan, sekarang ini aku memang telah menyaksikan sendiri hamba-mu Ayyub sangat rajin bersyukur seraya memuji kepada-mu. Tetapi kalau engkau memberi cobaan kepadaku tentu dia tidak akan bersyukur dan tidak pula mentaatinya.

Allah SWT berfirman kepada Iblis: “Baik, silakan kamu merangkap. Sekarang aku beri kekuasaan kepadamu untuk mencoba Ayyub a.s. melalui harta kekayaannya.”

Iblis berangkat. Ia mengumpulkan semua anak buah terdiri dari syaitan dan jin ia katakan kepada mereka: “Sekarang aku telah diberi wewenang untuk mencoba Ayyub a.s. melalui hartanya”

Lebih lanjut iblis berkata lagi: “Ifrit, sekarang  kau kuberi tugas membakar tempat penggembalaan unta-unta milik Ayyub a.s. dan sekaligus membunuh semua unta-unta itu. Laksanakan !”

Iblis datang menjumpai Ayyub a.s., saat mana ketika itu Beliau sedang melaksanakan sholat. Iblis berkata kepadanya: “Tempat penggembalaan unta-untamu terbakar, dan seluruh unta milikmu ikut terbakar pula.”

Apa kata Nabi Ayyub a.s.: “Alhamdulillah. Allah SWT sendiri yang memberikan kekayaan itu kepadaku dan hanya dia saja yang berhak mengambil kembali.”

Iblis tidak berhenti sampai disitu. Ia meningkat lagi pada kekayaan yang lain. Ia hancurkan semua kambing milik Nabi Ayyub a.s., berikut tempat penggembalaannya. Ia datang ke Nabi Ayyub a.s. seraya memberitahukan peristiwa itu.

“Angin panas telah menghancurkan kebunnya, tidak ada yang tersisa sedikitpun,” kata iblis sehabis merusak semua kebun milik Nabi Ayyub a.s.

Apa kata Nabi Ayyub a.s.: “Ahamdulillah...” kemudian Beliau memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya.

Usaha iblis belum berhenti sampai disitu. Ia kembali menghadap Allah SWT seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk mencoba Nabi Ayyub a.s. melalui anak-anaknya.

Allah berkata:”Silakan, pergilah. Aku memberi kekuasaan penuh kepadamu untuk mencoba Ayyub melalui anak-anaknya.”

Iblis berangkat. Yang dituju adalah gedung tempat anak-anak Nabi Ayyub a.s. berlindung di bawahnya. Gedung itu diguncang lalu hancur menindih habis anak-anak Nabi Ayyub a.s., semuanya mati. Iblis lalu memberi Nabi Ayyub a.s. tentang bencana yang menimpa anak-anaknya.

Apa reaksi Beliau? Nabi Ayyub a.s. malah beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT.

Usaha iblis tetap tidak menghasilkan apapun untuk merubah ketaatan Nabi Ayyub a.s. Beliau tetap taat kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya. Iblis kembali menghadap Allah SWT seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk mengujinya. Allah berkata kepadanya: “Silakan. Aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji melalui tubuh, lisan dan akalnya. Tetapi bukan hatinya.”

Iblis segera berangkat untuk menggoda Nabi Ayyub a.s. Sampai ketempat yang dituju ternyata Beliau sedang bersujud. Iblis datang dari arah kepala Beliau, lalu meniup kedua lubang hidungnya dengan sekali tiup. Seketika itu badan Nabi Ayyub a.s. serasa gatal-gatal.

Makin lama terasa semakin gatal. Nabi Ayyub a.s. menggaruk-garuk bagian-bagian tubuh yang gatal dengan ujung-ujung jemarinya. Tetapi belum juga hilang gatal-gatal itu.

Nabi Ayyub a.s. mencoba menggaruk-garuknya dengan kain kasar. Belum juga hilang gatal-gatal itu. Lalu menggunakan kerewang (pecahan gerabah) dan batu. Beliau tidak henti-hentinya menggaruk badannya hingga melepuh, sehingga bernanah dan berbau busuk. Masyarakat sekitarnya menganggap berbahaya terhadap penyakit yang sedang dialami Nabi Ayyub a.s. Mereka sepakat mengasingkan Beliau ke luar daerah. Beliau terusir ke tempat yang kotor. Mereka membuatkan untuk Beliau sebuah gubuk yang hanya ditemani istrinya yang bernama Rahmah.

Meskipun demikian istri beliau, Rahmah, selalu setia melayaninya. Ia berbuat baik sekali kepadanya. Ia perlakukan suaminya penuh kasih sayang.  Kebutuhan-kebutuhan makan dan minumnya selalu diperhatikan. Kaum Nabi Ayyub a.s. yang mendeportasi dirinya terdiri dari tiga golongan. Namun begitu semuanya masih tetap dalam keimanan semula. Mereka tidak meninggalkan agamanya.


Diambil dari kitab UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syekh Nawawi Al Bantani.
Lintas Islam akhlak, keluarga, tashawuf
Thursday, January 10, 2013

Hak-hak Istri Terhadap Suami


Feminist Protest

Allah SWT berfiman sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nisaa Ayat 19: “Dan pergauilah mereka (istri-istrimu) dengan baik“. Yang dimaksud adalah pergaulan secara adil. Baik dalam pembagian giliran (kalau kebetulan poligami), pemberian belanja dan berperangai baik dalam ucapan dan tindakan.

Dalam Surat Al-Baqaroh ayat 228 diterangkan: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai suatu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”

Diriwayatkan dari nabi SAW bahwa, saat beliau menunaikan haji wada’ beliau bersabda: Setelah beliau memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya serta memberi petuah pada kaum muslimin yang hadir, Beliau melanjutkan sabdanya: “Ingatlah, berikanlah wasiat kepada para wanita secara baik, karena mereka hanyalah sebagai tawanan dihadapanmu. Sesungguhnya kalian tidak memiliki apapun dari mereka kecuali kebaikan, kecuali jika mereka itu (wanita) datang dengan membawa perbuatan buruk yang jelas. Kalau wanita melakukan perbuatan tercela, maka berpisahlah sebatas tempat tidur dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalau istrimu mentaati maka kamu jangan mencari alasan lain untuk mengusiknya. Ingatlah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu. Diantara hak kalian atas istri-istrimu adalah melarang istrimu menggelar tikarmu terhadap orang yang tidak kamu sukai dan tidak mengijinkan istri-istrimu memasukkan orang yang tidak kamu sukai. Ingatlah, bahwa diantara hak-hak istrimu adalah memberi pakaian yang baik kepadanya dan demikian pula dalam hal makanannya. ”   

Rasulullah SAW bersabda, artinya: “Hak istri atas suami adalah memberi makan kepadanya jika ia (suami) makan, memberi pakaian kepadanya apabila ia (suami) berpakaian, dan jangan menampar wajah, jangan menjelek-jelekkan dan jangan membiarkan (memisahkannya) kecuali dalam hal tempat tidur. (Riwayat Thamrani dari Muawiyah bin Haidah).

Rasulullah SAW bersabda: “Siapapun orang laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan maskawin yang hanya sedikit atau banyak, tetapi drinya berniat untuk tidak memenuhi hak-hak istri (yakni bermaksud menipunya) lalu lelaki itu mati hingga belum pernah memenuhi hak-hak istrinya, maka di hari kiamat kelak ia akan menghadap Allah SWT dengan menyandang predikat sebagai pezina.”

Rasululah SAW bersabda: ”Sesunguhnya di antara kesempurnaan keimanan orang mukmin adalah mereka yang lebih bersikap kasih sayang (berlaku lemah lembut) terhadap istrinya.” (Riwayat Turmudzi dan Hakim dari Aisyah).  

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik di antaramu terhadap keluarga (istri-istri)-ku.” (Riwayat Ibnu Hibban).  

Dalam riwayat lainnya dikatakan: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah mereka yang paling bagus  terhadap istri-istrinya, dan aku adalah orang yang lebih bagus di antaramu terhadap istri-istriku.” 
  
Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan istrinya maka Allah SWT akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah SWT kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya.  Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah SWT memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.” 





Diambil dari kitab UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syekh Nawawi Al Bantani.
Lintas Islam akhlak, keluarga, tashawuf
Tuesday, January 8, 2013

Hak dan Kewajiban Suami-Istri

PROLOG


Belum lama ini telah terjadi lagi satu kasus yang dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap kaum perempuan, yaitu kasus yang terjadi pada bupati Garut. Kasus ini menambah daftar panjang kasus pelecehan terhadap perempuan yang menurut pelaku dilakukan atas dasar pemahaman mereka tentang hukum Islam.

Menurut Barat, kelemahan Islam dalam menghadapi modernisasi, salah satunya adalah mengenai didudukkannya perempuan sebagai masyarakat kelas dua di tengah masyarakat Islam. Penilaian ini direspon oleh berbagai kelompok umat Islam dengan berbagai reaksi. Ada yang membantah penilaian miring tersebut dengan mengajukan argumen bahwa Allah telah memberikan fungsi kepada laki-laki dan perempuan sesuai dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Allah yang menciptakan manusia, maka Ia lebih tahu apa yang terbaik buat manusia.

Sebagian umat Islam lain membenarkan penilaian Barat tersebut dengan di antaranya mengusulkan produk-produk hukum yang akan melindungi kaum perempuan terhadap isu-isu yang dianggap merugikan kaum perempuan seperti terhadap kasus poligami, kawin sirri, pembatasan umur minimal perempuan untuk menikah, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dll.

Melihat semakin berkembangnya isu-isu tentang perempuan tersebut, Lintas Islam kali ini akan menurunkan sebuah tulisan yang membahas tentang hak dan kewajiban istri (dan suami) yang diambil dari buku UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, yang merupakan karya seorang ulama Islam mazhab klasik Syekh Nawawi Al Bantani Al Jawi. 

Dipilihnya buku tersebut adalah karena beberapa pertimbangan. Pertama, beliau adalah ulama dari kalangan Islam Klasik di mana syariat dan sufi masih menjadi bagian yang pokok dari pengajaran ilmu Islam. Ini artinya bahwa buku-buku yang ditulis oleh ulama Islam Klasik lebih memfokuskan pada konsekuensi penerapan hukumnya di akhirat, bukan konsekuensinya di dunia seperti banyak yang dilakukan oleh ulama kontemporer yang seringkali mencampuradukkan antara hukum agama dengan politik, kebencian atau kecenderungan (sentimen) terhadap Barat, dll. Ulama-ulama Islam Klasik pada umumnya memiliki tingkat keikhlasan dan rasa takut kepada Allah yang lebih tinggi. Dalam mempublikasikan karya tulis ke publik, mereka lebih berhati-hati karena sadar sepenuhnya akan konsekuensi di akhirat, bila dibandingkan dengan ulama-ulama kontemporer yang sangat bangga dengan banyaknya jumlah eksemplar yang terjual.

Kedua, sebagaimana Imam Jafar Sadiq yang menjadi guru dari para ulama dunia, Syekh Nawawi adalah merupakan guru dari kyai-kyai dan ulama-ulama di Indonesia. Maka wajar saja kalau Gus Dur pernah mengusulkan agar beliau diberikan gelar pahlawan nasional. Karyanya bukan saja diakui di Indonesia, tetapi juga diakui oleh ulama-ulama di seluruh dunia. Sementara ulama-ulama kontemporer banyak yang tidak menghasilkan karya intelektual atau hanya menjadi jago kandang, tetapi sudah berani saling menyalahkan ulama-ulama lainnya.

Isi dari keseluruhan buku akan ditampilkan setiap minggu dalam potongan-potongan artikel (total jadi 29 artikel). Ini mengikuti ucapan ustad saya, bahwa untuk jaman ini, pengajian sebaiknya diberikan secara sedikit-sedikit dan jangan terlalu sering. Katanya, setan di jaman ini tambah banyak, godaan untuk belajar agama lebih berat. Lima menit duduk untuk kepentingan akhirat terasa berjam-jam, tetapi untuk kepentingan dunia menyelam ke laut sampai mati pun diperjuangkan. Oleh karena itu pula banyak jamaah yang datang hanya kadang-kadang, lalu mengambil hukum sepotong-sepotong dan hanya yang mengenakkan bagi dirinya saja (tidak keseluruhan), dan mengatakan bahwa itu 'kata Islam' atau 'kata ustad'. Misalnya mereka menuntut pelayanan penuh dari istri mereka dengan berdalih bahwa "MENURUT ISLAM, ISTRI TIDAK AKAN MASUK SURGA BILA TIDAK ADA RIDHA DARI SUAMI. ISTRI HARUS JADI PELAYAN SUAMI. BILA ISTRI TIDAK TAAT, USTAD BILANG ISTRI BOLEH DIPUKUL!!".  Padahal ridha suami yang mana? sudahkah ia juga menjalankan kewajiban terhadap istrinya? tahukah ia bahwa kewajiban istri kepada suami hanya sebatas pelayanan di tempat tidur saja? Sedangkan menyusui anak, membantu mencari nafkah, mencuci baju, menyediakan masakan dan lain-lain bukanlah termasuk kewajibannya? Bila kaum perempuan (istri) mengetahui hal ini, niscaya mereka akan lebih petantang-petenteng di hadapan suami. Tetapi bila ia istri yang mengerti agama, ia akan melakukan pekerjaan lainnya tersebut dengan ikhlas karena pahalanya lebih besar daripada berhakaat-rhakaat shalat sunah. Perkawinan adalah suatu kontrak, bila salah satu pihak tidak dapat memenuhi keseluruhan isi kontrak, maka kontrak menjadi tidak berlaku lagi. Maka bila itu terjadi, keridhaan dari kedua belah pihak lebih diutamakan daripada tuntutan atas hak-hak dari pasangan. Tetapi memahami keseluruhan isi kontrak adalah penting untuk menghindari tuntutan di akhirat sana. Oleh karena disesuaikan dengan penulisan artikel di atas, maka sistematika penulisan artikel ini tidak sama persis dengan yang ada di buku. Bila ada isi dari salah satu bab yang terlalu panjang, maka kami potong dan beri judul baru. Tetapi secara keseluruhan isinya tidak ada yang berubah.

Mengingat ketaatan dan kesungguhan ulama-ulama klasik dalam menjaga hukum agama, maka wajar bila apa yang ditulis oleh ulama klasik terasa sangat berat untuk diterapkan pada jaman ini. Oleh karena itu, penerapannya di jaman ini diserahkan kepada kemampuan dan kenormalan jaman dari masing-masing pembaca.

Berikut ini adalah biografi dari Syekh Nawawi Al Bantani...



Syekh Nawawi Al Bantani
Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh Kitab Kuning Indonesia. Sebut misalnya, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syekh Yusuf Makasar, Syekh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri. Dari beberapa tokoh tadi, nama Syekh Nawawi Al-Bantani boleh disebut sebagai tokoh utamanya. Ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat, (1230-1314 H/1813-1897 M) ini layak menempati posisi itu karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri.

Bernama lengkap Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi. Ayahnya seorang tokoh yang agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Istrinya yang pertama bernama Nasimah, juga lahir di Tanara. Darinya, Kiai Nawawi dikaruniai tiga putri, Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Istrinya yang kedua, Hamdanah, memberinya satu putri: Zuhrah.

Syekh Nawawi sejak kecil telah diarahkan ayahnya, KH. Umar bin Arabi menjadi seorang ulama. Setelah mendidik langsung putranya, KH. Umar yang sehari-harinya menjadi penghulu Kecamatan Tanara menyerahkan Nawawi kepada KH. Sahal, ulama terkenal di Banten. Usai dari Banten, Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada ulama besar Purwakarta Kyai Yusuf. Ketika berusia 15 tahun bersama dua orang saudaranya, Nawawi pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, setelah musim haji usai, ia tidak langsung kembali ke tanah air. Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota Suci Mekkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan negeri lainnya, seperti Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani. Tiga tahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah.

Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar di pesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi. Lagi pula, keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu berkobar. Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci. Kecerdasan dan ketekunannya mengantarkan ia menjadi salah satu murid yang terpandang di Masjidil Haram. Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi.

Selain menjadi Imam Masjid, ia juga mengajar dan menyelenggarakan halaqah (diskusi ilmiah) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia. Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Mekkah ditahun 1884-1885 menyebut, Syekh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 hingga 12.00 memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya. Di antara muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air.

Sejak 15 tahun sebelum kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Akibatnya, ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengajar. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab mengenai berbagai persoalan agama. Paling tidak 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis. Beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga sekarang.

Dikenal sebagai ulama dan pemikir yang memiliki pandangan dan pendirian yang khas, Syekh Nawawi amat konsisten dan berkomitmen kuat bagi perjuangan umat Islam. Namun demikian, dalam menghadapi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, ia memiliki caranya tersendiri. Syekh Nawawi misalnya, tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapi kaum penjajah. Tapi, itu tak berarti ia kooperatif dengan mereka. Syekh Nawawi tetap menentang keras kerjasama dengan kolonial dalam bentuk apapun. Ia lebih suka memberikan perhatian kepada dunia ilmu dan para anak didiknya serta aktivitas dalam rangka menegakkan kebenaran dan agama Allah SWT.

Dalam bidang syari’at Islamiyah, Syekh Nawawi mendasarkan pandangannya pada dua sumber inti Islam, Alquran dan Al-Hadis, selain juga ijma’ dan qiyas. Empat pijakan ini seperti yang dipakai pendiri Mazhab Syafi’iyyah, yakni Imam Syafi’i. Mengenai ijtihad dan taklid (mengikuti salah satu ajaran), Syekh Nawawi berpendapat, bahwa yang termasuk mujtahid (ahli ijtihad) mutlak adalah Imam Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki. Bagi keempat ulama itu, katanya, haram bertaklid, sementara selain mereka wajib bertaklid kepada salah satu keempat imam mazhab tersebut. Pandangannya ini mungkin agak berbeda dengan kebanyakan ulama yang menilai pintu ijtihad tetaplah terbuka lebar sepanjang masa. Barangkali, bila dalam soal mazhab fikih, memang keempat ulama itulah yang patut diikuti umat Islam kini. Apapun, umat Islam patut bersyukur pernah memiliki ulama dan guru besar keagamaan seperti Syekh Nawawi Al-Bantani.


PENGGERAK MILITANSI MUSLIM

Meski pandangannya terhadap perempuan masih terlalu ortodoks dan sebagaimana lazimnya permikiran tradisional Islam masih menganggapnya sebagai objek, jejak Kiai Nawawi, baik melalui murid dan pengikutnya maupun melalui kitabnya yang masih berpengaruh dan dipakai di pesantren hingga kini, benar-benar pantas menempatkannya sebagai nenek moyang gerakan intelektual Islam di Nusantara. Bahkan, sangat boleh jadi, ia merupakan bibit penggerak (King Maker) militansi muslim terhadap Belanda penjajah.
Pada masanya, saat perjalanan haji mulai berfungsi sebagai pemersatu Nusantara dan perangsang antikolonialisme, ketiga ulama tersebut sebagai bagain dari masyarakat “Jawah mukim” punya peran penting sebagai perantara antara orang Nusantara dan gerakan agama serta politik di bagian dunia Islam yang lain. Ketiganya mengilhami gerakan agama di Indonesia dan mendidik banyak ulama yang kemudian berperan penting di tanah air.

Sebagai pengarang yang paling produktif, Kiai Nawawai Banten punya pengaruh besar di kalangan sesama orang Nusantara dan generasi berikutnya melalui pengikut dan tulisannya. Tak kurang dari orientalis Dr. C. Snouck Hurgronje memujinya sebagai orang Indonesia yang paling alim dan rendah hati. Ia menerbitkan lebih dari 38 karya. Ada sumber yang mengatakan ia menulis lebih dari 100 kitab.


PENULIS MULTI DIMENSI

Kitab tafsirnya, Al-Tafsir Al-Munir li Ma’alim al-Tanzil sangat terkenal. Ia menulis kitab dalam hampir setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren. Berbeda dari pengarang Indonesia sebelumnya, ia menulis dalam bahasa Arab. Beberapa karyanya merupakan syarah (komentar) atas kitab yang telah digunakan di pesantren serta menjelaskan, melengkapi, dan terkadang mengkoreksi matan (kitab asli) yang dikomentari.
Sejumlah syarah-nya benar-benar menggantikan matan asli dalam kurikulum pesantren. Tidak kurang dari 22 karyanya (ia menulis paling sedikit dua kali jumlah itu) masih beredar dan 11 kitabnya yang paling banyak digunakan di pesantren. Kiai Nawawi Banten berdiri pada titik peralihan antara dua periode dalam tradisi pesantren. Ia memperkenalkan dan menafsirkan kembali warisan intelektualnya dan memperkayanya dengan menulis karya baru berdasarkan kitab yang belum dikenal di Indonesia pada zamannya. Semua kyai zaman sekarang menganggapnya sebagai nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, Ahmad Khatib Minangkabawi, bapak reformasi Islam Indonesia, pun termasuk siswanya. Muridnya yang lain antara lain, K.H. Hasyim Asy-ari, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi, dan K.H. Tubagus Asnawi.


DARI AKIDAH HINGGA RIWAYAT HADITS

Kitabnya, Qathr al-Ghaits, merupakan syarah dari kitab akidah terkenal, Ushul 6 Bis, karya Abu Laits al-Samarqandi, yang di Jawa lebih dikenal sebagai Asmaraqandi. Bersama karya Ahmad Subki Pekalongan, Fath al-Mughits, yang merupakan terjemahan Jawa Ushul 6 Bis, Qathr al-Ghaits banyak dipakai dan menjadikan Ushul 6 Bis lebih terkenal.

Ushul 6 Bis ialah karya tentang ushuluddin yang terdiri atas enam bab yang masing-masing dibuka dengan kata bismillah. Pada abad ke-19, Ushul 6 Bis merupakan kitab akidah pertama yang dipelajari di pesantren tingkat rendah Indonesia. Dua kitab lain yang diajarkan di tingkat yang sama ialah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh karya Abu Syuja’ al-Isfahani dan Bidayah al-Hidayah, ringkasan Ihya karya al-Ghazali.

Kitab Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani, Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud, yang berbahasa Arab dalam berbagai terbitan merupakan adaptasi Indonesia kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzinji tentang Maulid an-Nabi (‘Iqd al-Jawahir).

Karya acuan yang paling penting ialah Minhaj at-Thalibin karya Nawawi dan komentarnya atas karya Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj. Minhaj yang menjadi dasar utama semua teks juga dianggap sebagai sumber riil otoritas.

Teks dasar dalam bidang akidah ialah Umm Al-Barahin (disebut juga Al-Durrah) karya Abu’Abdullah M. bin Yusuf al-Sanusi (wafat 895 H/ 1490 M). Syarah yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai as-Sanusi, ditulis oleh pengarangnya sendiri. Karya lain yang sebagain didasarkan atas As-Sanusi ialah Kifayah al-‘Awwam karya Muhammad bin Muhammadal-Fadhdhali (wafat 1236 H/ 1821 M) yang sangat popular di Indonesia. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dalam Mac Donald 1903, halaman 315-351.
Murid Fadhali, Ibrahim Bajuri (wafat 1277 H/1861 M) menulis syarah-nya, Taqiq al-Maqam ‘Ala Kifayah al’Awwam, yang dicetak bersama Kifayah dalam edisi Indonesia. Syarah ini di-hasyiyah-kan oleh Nawawi Banten dalam karya yang banyak dibaca orang, Tijan ad-Durari.


DARI ANAK MUDA HINGGA ADAB

Kitab singkat berbentuk sajak bagi mereka yang berusia belia dan baru mengerti bahasa Arab, ‘Aqidah al-Awwam, ditulis oleh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki yang giat kira-kira 1864. Nawawi Banten menulis syarah yang terkenal atasnya, Nur Azh-Zhalam.

Nasha’ih al-‘Ibad juga merupakan karya lain Nawawi Banten. Kitab ini merupakan syarah atas karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, an-Nabahah ‘ala Isti’dad. Kitab ini memusatkan pembahasan atas adab berperilaku dan seiring dijadikan karya pengantar mengenal akhlak bagi santri yang lebih muda.

Nawawi juga menulis syarah berbahasa Arab atas Bidayah al-Hidayah karya Abu Hamid al-Ghazali dengan judul Maraqi al-‘Ubudiyah yang lebih populer, jika dinilai dari jumlah edisinya yang berbeda-beda yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. ‘Uqd al-Lujain fi Huquqf az-Zaujain ialah karya Nawawi tentang hak dan kewajiban istri. Ini adalah materi pelajaran wajib bagi santri putri di banyak pesantren. Dua terjemahan dan syarah-nya dalam bahasa Jawa beredar, Hidayah al-‘Arisin oleh Abu Muhammad Hasanuddin dari Pekalongan dan Su’ud al-Kaumain oleh Sibt al-Utsmani Ahdari al-Jangalani al-Qudusi.


TOKOH SUFI QADIRIYAH

Kiai Nawawi juga dicatat sebagai tokoh sufi yang beraliran Qadiriyah, yang didasarkan pada ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat 561 H/ 1166M). Sayang, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis belum mendapatkan bahan rujukan yang memuaskan tentang Kiai Nawawi Banten sebagai pengikut tarekat Qadiriyah ataukah tarekat gabungan Qadiriyah wa Naqshabandiyah.

Padahal, pembacaan sejak lama kitab Manaqib Abdul Qadir pada kesempatan tertentu merupakan indikasi kuatnya tarekat ini di Banten. Bahkan, Hikayah Syeh, terjemahan salah satu versi Manaqib, Khulashah al-Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karangan ‘Afifuddin al-Yafi’I (wafat 1367M), sangat boleh jadi dikerjakan di Banten pada abad ke-17, mengingat gaya bahasanya yang sangat kuno. Lebih dari itu, pada pertengahan abad ke-18, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, dalam segel resminya menggelari diri al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin dari Kalimantan di Makkah, Ahmad Khatib Sambas (wafat 1878), mengajarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan dengan Naqshabandiyah. Kedudukannya sebagai pemimpin tarekat digantikan oleh Syaikh Abdul Karim Banten yang juga bermukim di Makkah. Di tangannya, tarekat gabungan ini berkembang pesat di Banten dan mempengaruhi meletusnya Geger Cilegon pada 1888 dan amalannya melahirkan debus.

Begitulah, Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani yang hidup kira-kira satu abad setelah ‘Abd as-Samad al-Falimbani disebut dalam isnad kitab tasawuf yang diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning Syekh Yasin Padang (Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa al-Fadani) sebagai mata rantai setelah ‘Abd as-Samad.

Kiai Nawawi yang sangat produktif itu juga menulis kitab syarah, Salalim al-Fudhala’, atas teks pelajaran tasawuf praktis Hidayah al-Adzkiya’ (Ila Thariq al-Auliya’) karya Zain ad-Din al-Malibari yang ditulis dalam untaian sajak pada 914 H/ 1508-09 M. Kitab ini popular di Jawa, misalnya disebutkan dalam Serat Centhini. Salalim dicetak di tepi Kifayah al-Ashfiya’ karya Sayyid Bakri bin M. Syaththa’ ad-Dimyati.


PENYUMBANG BESAR ILMU FIQH

Kiai Nawawi termasuk ulama tradisional besar yang telah memberikan sumbangan sangat penting bagi perkembangan ilmu fiqh di Indonesia. Mereka memperkenalkan dan menjelaskan, melalui syarah yang mereka tulis, berbagai karya fiqh penting dan mereka mendidik generasi ulama yang menguasai dan memberikan perhatian kepada fiqh.

Ia menulis kitab fiqh yang digunakan secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini merupakan syarah kitab Qurrat al-‘Ain, yang ditulis oleh ulama India Selatan abad ke-16, Zain ad-Din al-Malibari (w. 975 M). Ulama India ini adalah murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat 973 M), penulis Tuhfah al-Muhtaj, tetapi Qurrat dan syarah yang belakangan ditulis al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain belakangan dikomentari dan ditulis kembali oleh pengarangnya sendiri menjadi Fath al-Muin. Dua orang yang sezaman dengan Kiai Nawawi Banten di Makkah tapi lebih muda usianya menulis hasyiyah (catatan) atas Fath al-Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi menulis empat jilid I’aanah at-Thalibbin yang berisikan catatan pengarang dan sejumlah fatwa mufti Syafi’i di Makkah saat itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang populer sebagai rujukan utama.

Kiai Nawawi Banten juga menulis dalam bahasa Arab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lain yang juga penting dalam ilmu fiqh. Yang satu teks pengantar Sultan at-Taufiq yang ditulis oleh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat 1272 H/ 1855 M). Yang lain ialah Safinah an-Najah ditulis oleh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadrami yang tinggal di Batavia (kini: Jakarta) pada pertengahan abad ke-19.

Kitab daras (text book) ar-Riyadh al Badi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas butir pilihan ajaran dan kewajiban agama diperkenalkan oleh Kyai Nawawi Banten pada kaum muslimin Indonesia. Tak banyak diketahui tentang pengarangnya, Muhammad Hasbullah. Barangkali ia sezaman dengan atau sedikit lebih tua dari Kiai Nawawi Banten. Ia terutama dikenal karena syarah Nawawi, Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di pinggirnya.

Sullam al-Munajat merupakan syarah Nawawi atas pedoman ibadah Safinah ash-Shalah karangan Abdullah bin ‘Umar al-Hadrami, sedangkan Tausyih Ibn Qasim merupakan komentarnya atas Fath al-Qarib.


KARAMAH

Konon, pada suatu waktu pernah beliau mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk beliau sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang beliau diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri beliau itu membawa bekas yang tidak hilang.

Karamah beliau yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta), itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal, saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.
“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah". Ujar Syaikh Nawawi remaja.

Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun beliau berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil beliau. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad beliau. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada beliau. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang beliau karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan beliau.


WAFAT

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Syaikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Mekah. Makam beliau bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.

(Diambil dari beberapa sumber)



Lintas Islam akhlak, fiqh, keluarga, tashawuf
Tuesday, January 1, 2013

Kisah Nabi Muhammad SAW




Film kartun anak, berkisah tentang nabi Muhammad

Muhammad bin Abdullāh (Arab: محمد بن عبد الله) adalah pembawa ajaran/agama Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi dan (Rasul) yang terakhir. Menurut sirah (biografi) yang tercatat tentang Muhammad, ia disebutkan lahir sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah (Makkah) dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah pada usia 63 tahun. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hijazh, Arab Saudi. Nabi Muhammad haram digambarkan dalam bentuk patung, kartun ataupun gambar ilustrasi.





Michael H. Hart dalam bukunya The 100 menilai Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egoistis, barbar, terbelakang dan terpecah belah oleh sentimen kesukuan, menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan kemiliteran dan bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia.


Lintas Islam film, tokoh
Friday, December 28, 2012

Kisah Nabi Ismail


Film kartun anak, berkisah tentang Nabi Ismail

Ismail (Bahasa Arab إسماعيل ) (sekitar 1911-1779 SM) adalah seorang nabi dalam kepercayaan agama samawi. Ismail adalah putera dari Ibrahim dan Hajar, kakak kandung dari Ishaq. Ia dianggkap menjadi nabi pada tahun 1850 SM. Ia tinggal di Amaliq dan berdakwah untuk Qabilah Yaman, Mekkah. Namanya disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran. Ia meninggal pada tahun 1779 SM di Mekkah. Secara tradisional ia dianggap sebagai Bapak Bangsa Arab.


Lintas Islam
Lintas Islam film, tokoh
Tuesday, December 25, 2012

Kisah Nabi Ibrahim





Film kartun anak, berkisah tentang nabi Ibrahim

Ibrahim (Bahasa Arab إبراهيم ) (sekitar 1997-1822 SM) merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia mendapat gelar dari Allah dengan gelar Khalil Allah (Sahabat Allah). Selain itu ia bersama anaknya, Ismail terkenal sebagai pengasas Kaabah. Ia diangkat menjadi nabi sekitar pada tahun 1900 SM, diutus untuk kaum Kaldān yang terletak di kota Ur, negeri yang disebut kini sebagai Iraq. Ibrahim dianggap sebagai salah satu nabi Ulul azmi.


Lintas Islam film, tokoh
Thursday, December 20, 2012

Sang Pencerah


Sang Pencerah adalah film drama tahun 2010 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo berdasarkan kisah nyata tentang pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan, Ihsan Idol sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Film ini menjadikan sejarah sebagai pelajaran pada masa kini tentang toleransi, koeksistensi (bekerjasama dengan yang berbeda keyakinan), kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang. Sang Pencerah mengungkapkan sosok pahlawan nasional itu dari sisi yang tidak banyak diketahui publik. Selain mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah, lelaki tegas pendirian itu juga dimunculkan sebagai pembaharu Islam di Indonesia. Ia memperkenalkan wajah Islam yang modern, terbuka, serta rasional. Versi novel kisah ini ditulis oleh wartawan-sastrawan Akmal Nasery Basral, dan mendapat predikat Fiksi Terbaik Islamic Book Fair Award 2011.



Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Muhammad Ihsan Tarore) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah.

Dengan sebuah kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menghadap ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke Afrika. Usul itu kontan membuat para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), meradang. Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau.

Walaupun usul perubahan arah kiblat ini ditolak, melalui suraunya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah. Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.

Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah. Dalam khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman, Yogyakarta. "Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen," katanya. Walhasil, Dahlan dimusuhi.

Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat.

Dahlan, yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Ganesha), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adhiswara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.


Lintas Islam
Lintas Islam film, tokoh
Tuesday, December 18, 2012

Lion of The Desert (movie)

Cover Lion Of the Desert

Film Lawas: Pemimpin Libya Moummar Quaddafi membiayai epik gurun ini tentang seorang pahlawan Libya yang membantu bangsanya menahan serangan invasi Italia pada tahun 1929. Anthony Quinn berperan sebagai Omar Mukhtar, yang memimpin pasukan Libya untuk menahan pasukan Italia yang menginvasi di bawah Jenderal Rodolfo Graziana (Oliver Reed), yang berusaha untuk mendapatkan pijakan di tanah Libya di bawah perintah langsung dari diktator Italia Mussolini (Rod Steiger). Dengan kegigihan Mukhtar, seorang Libya, memerangi tank dan senjata tentara Italia bersama pasukan Badui di atas punggung kuda, berhasil menahan pasukan Italia selama dua puluh tahun, sampai Mukhtar akhirnya tertangkap dan dieksekusi.














Lintas Islam film, tokoh
Friday, December 14, 2012

Dari Sigmund Freud ke Imam Al Ghazali

Ilustrasi Wajah Al Ghazali


Benar juga dugaan saya... Pada tahun 90-an, saya pernah mengatakan kepada ustad saya yang seorang Muhammadiyah, seorang Doctor lulusan IAIN (almarhum, saat itu beliau masih bergelar S2), bahwa di masa depan Amerika dan orang-orang Barat akan banyak yang memeluk Islam melalui sufi. Beliau membantah prediksi saya tersebut dengan dalih bahwa orang-orang Barat sangat rasional, dan akan lebih menerima Islam melalui pemikiran Islam yang rasional daripada sufi. Kenyataannya, saat ini ilmuwan di Amerika dan Barat mulai meneliti hasil-hasil pemikiran Al Ghazali, terutama dalam kajian bidang psikologi. Bila apa yang dihasilkan oleh pemikiran Al Ghazali dapat dibuktikan secara ilmiah, maka bisa jadi akan terjadi pergeseran teori psikologi dari Sigmund Freud ke Al Ghazali, atau setidaknya akan terdapat dua aliran psikologi yaitu aliran Sigmund Freud dan aliran Al Ghazali.

Seperti telah diketahui oleh para ilmuwan, bahwa Sigmund Freud dan Al Ghazali memiliki teori yang sangat bertentangan seratus delapan puluh derajat. Teori Freud mengatakan bahwa motif dari tindakan manusia adalah untuk memuaskan kebutuhan fisik dan material mereka. Seseorang akan bahagia bila ia dapat mencapai tujuan ini. Sedangkan Al Ghazali dan kaum sufi berpendapat sebaliknya, bahwa manusia akan dapat mencapai kebahagiaan bila ia dapat mengendalikan hasrat untuk memuaskan kebutuhan fisik dan material mereka, yang dalam istilah agama disebut sebagai syahwat. Al Ghazali juga menulis karya yang membahas subyek tentang 'penyakit hati' yang saat ini menjadi penyakit modern, bagaimana mendiagnosa dan mengobatinya. Bila riset di Barat membuktikan bahwa teori Al Ghazali dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan orang-orang Barat secara mayoritas berpindah dari aliran Freud ke aliran Al Ghazali, maka kita akan menyaksikan revolusi psikologi dan kebudayaan di Barat yang lagi-lagi diinspirasikan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam abad pertengahan. Setelah Barat mengalami kebangkitan science, kedokteran, dan ilmu pengetahuan dengan menggali pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh Ibnu Sina, Ar Razi, Ibnu Rusyd dan ilmuwan-ilmuwan Islam dari mazhab Mutazillah dari abad pertengahan, maka di masa depan kemungkinan Barat akan mengalami revolusi kebudayaan setelah menggali pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh Al Ghazali dan ulama-ulama sufi dari abad pertengahan pula.

Sementara mayoritas Muslim yang hidup di negara-negara Muslim maupun di negara-negara sekuler akan selalu menjadi pengekor. Kita menyaksikan bahwa mayoritas muslim saat ini makin berperilaku seperti pengikut aliran Freud karena pengaruh pemikiran Barat yang sangat dominan. Banyak muslim saat ini yang berlomba-lomba dalam memuaskan hasrat fisik dan material, sehingga berbagai cara termasuk cara-cara yang haram pun dilakukan. Kesuksesan seorang muslim tidak lagi dinilai dari seberapa gigih ia mengendalikan hasrat syahwat mereka dan bertanggung jawab secara sosial, tetapi menilainya dari seberapa banyak kebutuhan fisik dan material yang dapat mereka puaskan dari harta yang berhasil mereka kumpulkan. Menjadi suatu pendapat umum saat ini, bahwa orang yang paling banyak memuaskan hasrat fisik dan material adalah orang-orang yang paling bahagia. Padahal orang-orang di Barat sana mulai menyadari bahwa keserakahan mereka dalam memuaskan hasrat fisik dan material adalah sumber dari ketidakbahagiaan. Kesadaran yang sama yang dialami oleh Al Ghazali di dalam film dokumenter Al Ghazali: The Alchemist of Happiness ketika ia meninggalkan rumah, mendermakan sebagian besar hartanya dan mengambil hanya yang cukup untuk kebutuhan pribadinya.

Al Ghazali memang banyak dituduh sebagai penyebab kemunduran science, kedokteran dan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam setelah kritiknya atas filsafat yang digunakan sebagai metodologi dalam mazhab Mutazillah memenangkan hati umat Islam dan mengakibatkan terjadinya penghukuman dan pengusiran (pengasingan) atas ulama-ulama Mutazillah. Ar Razi dihukum dengan cara dipukulkan kepalanya dengan buku hasil karyanya yang mengakibatkannya buta, karena ia dituduh zindiq (sesat) karena mengamalkan filsafat. Perintah penguasa saat itu: "Pukulkan bukunya ke kepalanya sampai bukunya hancur atau kepalanya yang hancur". Ibnu Sina dikejar-kejar, sehingga ia harus menjadi buronan dan berpindah-pindah tempat bersembunyi di rumah sahabat-sahabatnya. Ibnu Rusyd bernasib lebih baik karena ia hanya mengalami hukuman pengasingan. Penghukuman ini muncul akibat fanatisme dan pemahaman kerdil dari mayoritas umat Islam, sesuatu yang sesungguhnya tidak disukai oleh Al Ghazali. Dalam film dokumenter tersebut part 3, Al Ghazali mengatakan: "Bahaya muncul dari mereka yang kurang pengetahuan. Mereka yakin bahkan argumen yang masuk akal dari para filsuf, hanya karena ditulis oleh para filsuf, maka mesti ditolak. Tak peduli dari mana atau siapa ia mendengar argumen ini, karena tak memiliki cahaya pengetahuan, mereka tolak. Kepicikan dan kurangnya pengetahuan membuat mereka menolak segala argumen..... Muslim yang jahil lebih bahaya daripada orang kafir"

Tetapi pemikiran Al Ghazali mengalami nasib yang sama pula. Buku-bukunya dibakar oleh kaum fanatik Mediteranian dari Spanyol sampai Syria. Pemikirannya mulai banyak ditinggalkan setelah munculnya kritik oleh Ibnu Thaimiyah terhadap pemikiran Al Ghazali dan sufi. Ibnu Thaimiyah hidup di masa di mana Islam telah mengalami penurunan. Baghdad yang merupakan ibukota dari kekhalifahan Abbasiyah telah dihancurleburkan oleh pasukan Mongol. Cordoba yang merupakan ibukota dari kekhalifahan Abdurrahman (sisa-sisa Bani Umayyah yang berhasil melarikan diri saat terjadi revolusi Abbassiyah) telah dihancurleburkan pula oleh pasukan Salib. Ibnu Thaimiyah tinggal di Baghdad. Di masa itu, sufi menjadi praktek-praktek keagamaan yang paling banyak dianut oleh mayoritas Muslim (mainstream). Seperti diceritakan oleh Annemarie Schimmel - seorang Doktor dari Jerman yang mendalami tentang subyek sufi - di masa itu anda akan menemukan sufi sebagai mainstream. Anda akan menemukan banyak guru-guru sufi yang menjadi pemimpin-pemimpin umat Islam. Umat Islam telah banyak yang putus asa karena kekalahan yang mengubah status sosial mereka dari kelas yang memimpin menjadi kelas yang dikalahkan, dan para guru sufi mengajarkan bahwa "kita dapat menolong diri sendiri, bila kita mengharapkan cinta dari Allah". Sufi telah memenangkan hati umat Islam, dan pada akhirnya memenangkan hati penguasa Mongol. Mereka memeluk Islam. Dan sufi juga pada akhirnya memenangkan hati Annemarie Schimmel. Ia juga memeluk Islam (hal yang sama terjadi di Indonesia, di mana Sufi juga memenangkan hati penduduk Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang berpindah dari agama asli ke Islam jauh lebih cepat daripada di negara Hindustas melalui guru-guru sufi yang berasal dari Yaman. Sementara di negara Hindustan [India, Pakistan dan sekitarnya], hanya lima belas persen penduduk Hindustan yang berpindah dari agama asli ke Islam, walaupun kekhalifahan Islam telah menjejakkan kaki di sana selama lebih dari lima belas tahun).

Menurut Ibnu Thaimiyah, penguasa Mongol yang telah Muslim tersebut, dianggapnya tidak menjalankan syariat-syariat Islam sebagaimana yang dilakukan pada masa-masa ulama Salaf. Praktek-praktek keagamaan baru yang dihasilkan oleh peradaban sufi juga dianggapnya sebagai penyimpangan, yang tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama Salaf. Sejak Ibnu Thaimiyah lah muncul ide-ide tentang penegakan syariat dan penghapusan praktek-praktek di luar Islam yang murni, dan mengembalikan Islam sebagaimana yang dipraktekkan oleh ulama-ulama Salaf. Oleh karena itu aliran Ibnu Thaimiyah disebut sebagai aliran Salafy. Pada awalnya, ide Ibnu Thaimiyah ini tidak mendapatkan tempat di hati umat Islam.

Ide-ide Ibnu Thaimiyah ini semakin menguat ketika negara-negara Islam dijajah oleh negara-negara Barat dan dipaksakan untuk menerima hukum-hukum yang dipaksakan oleh penguasa-penguasa kafir ini. Murid dari murid dari murid-murid Ibnu Thaimiyah, Jamaludin Al Afghani, meghidupkan ide-ide Ibnu Thaimiyah ini. Selain ide tentang penegakan syariat dan pengecaman terhadap praktek-praktek sufi, Jamaludin Al Afghani juga memunculkan ide tentang kekhalifahan global dan kebutuhan akan pengajaran ilmu-ilmu modern (baca: Barat) untuk bisa mengalahkan Barat. Ide Jamaludin Al Afghani diteruskan oleh muridnya, Muhammad Abduh, selanjutnya dilanjutkan oleh murid dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha. Pada masa Rasyid Ridha ini, ide-ide Salafy semakin berbuah dan berpengaruh besar di dunia Muslim, terutama di negara-negara yang dijajah oleh Barat. Ide Salafy ini dibawa ke Indonesia oleh Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah dan Hasyim Asy'ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama. Ada perbedaan penerimaan/penolakan antara Muhammadiyah dan NU dalam hal penerapan syariat dan sufi, tetapi mereka memiliki kesamaan untuk menerapkan metode pengajaran ilmu-ilmu Barat di sekolah-sekolah Islam.

Setelah penjajahan Barat berakhir, banyak dari negara-negara muslim bekas jajahan yang mengadopsi negara sekuler. Di negeri Mesir, aliran Salafy ini melahirkan gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna, sebagai reaksi atas tekanan pemerintahan sekuler Mesir. Selanjutnya nafas Ikhwanul Muslimin ini dibawa ke Indonesia dan kita dapat melihat afiliasi organisasi ini di Indonesia dalam Partai Keadilan Sosial (PKS).

Sementara di Arab Saudi, gerakan Salafy ini dikembangkan oleh murid dari murid dari murid-murid Ibnu Thaimiyah dari jalur lain, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab, yang mendirikan organisasi Salafy, tetapi lebih dikenal oleh umat Islam di luar kelompok mereka sebagai Salafy-Wahabi untuk membedakannya dengan organisasi Salafy lainnya. Jadi kita melihat ada beberapa reinkarnasi dari gerakan Salafy, yaitu Salafy yang lebih memfokuskan pada pendidikan seperti Muhammadiyah dan NU, ada yang memfokuskan pada politik seperti Ikhwanul Muslimin dan PKS, dan ada yang memfokuskan pada kemurnian fiqh dan penegakan negara Islam seperti Salafy-Wahaby. Selain mereka masih ada reinkarnasi dari gerakan Salafy ini di berbagai tempat. Dalam terminologi kajian Islam di Barat, aliran-aliran Islam biasanya dikategorikan menjadi Islam Klasik (yaitu Islamnya para Imam Mazhab dan Sufi) dan Islam Salafy. Istilah Salafy-Wahaby juga digunakan untuk membedakan Salafy-Wahaby dengan Salafy lainnya, mengingat extremisme Salafy-Wahaby dalam aksi mereka terhadap penegakan negara Islam dan pemurnian akidah. 

Ada satu lagi kategori Islam lain, yaitu Islam Liberal. Bila gerakan Salafy didasari motif perlawanan terhadap Barat, gerakan Islam Liberal muncul di era di mana penjajahan Barat atas dunia Muslim telah berakhir. Bila dibandingkan gerakan salafy yang memiliki pandangan negative terhadap Barat, Islam Liberal memiliki pandangan positif atas budaya barat. Islam Liberal menggunakan pendekatan "hermeneutic", yaitu metode yang digunakan oleh Barat untuk melakukan penelaahan atas kitab-kitab klasik. Metode ini merupakan pendekatan yang digunakan Kristen di Barat pada masa lalu untuk mengkaji Injil sehingga pemahaman terhadap Injil mengalami modernisasi. Para penggiat Islam Liberal berpendapat, bahwa Islam akan mendapatkan kejayaannya, bila umat Islam mau menelaah kembali kitab suci mereka dan menyesuaikan pemahaman atas kitab suci mereka sesuai dengan perkembangan masyarakat modern. 

Mengingat penjajahan Barat atas dunia Islam yang cukup panjang tersebut, maka wajar bahwa pemikiran Islam Klasik dan sufi telah lama ditinggalkan dan pemikiran aliran Islam lainnya menjadi mainstream di jaman modern ini. Menjadi ironis, ketika pemikiran Islam Klasik dan sufi mulai ditinggalkan oleh mainstream dunia Islam, justru di Barat saat ini sedang diteliti dan dikembangkan. Lebih ironis lagi, sejarah pengecaman terhadap ulama Islam oleh ulama-ulama Islam lainnya terulang, walaupun tidak sedahsyat yang terjadi pada ulama-ulama Mutazilah di masa lalu. Pengecaman tersebut bukan lagi suatu kritik, tetapi sudah menjadi 'pembunuhan karakter' dengan mengatakan bahwa sufi adalah sesat, bid'ah, musyrik, khurafat, bukan dari Islam, dan kecaman lainnya. Tidak mustahil bahwa di masa depan Barat kembali mendominasi pemikiran dalam hal kebudayaan yang dikembangkan dari kekayaan intelektual Islam di masa lalu, sementara dunia Islam mulai mempelajari karya intelektual Islam dari Barat seperti yang terjadi dengan science, kedokteran dan ilmu pengetahuan sebelumnya.


by: Lintas Islam




Temukan artikel lainnya di Lintas Islam Untuk bergabung dengan group Lintas Islam, click Join; atau kirim email kosong ke alamat:  lintas-islam-subscribe@yahoogroups.com
Lintas Islam tashawuf, tokoh
Monday, December 10, 2012

Al Ghazali: The Alchemist of Happiness

Setelah googling, akhirnya saya menemukan terjemahan (subtitle) bahasa Indonesia untuk film ini, lalu menggabungkannya dengan file video berbahasa Inggris yang sudah saya miliki sebelumnya dan menguploadnya ke You Tube. Buruan nonton di You Tube atau di Lintas Islam bila tertarik untuk menontonnya, sebelum ketahuan oleh yang memiliki hak cipta...

Synopsis untuk film Al Ghazali: The Alchemist of Happiness:

Menjelajahi kehidupan dan pengaruh dari filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah Islam, film ini meneliti krisis eksistensial iman Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan jaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam (Bukti Islam) dan jalan cinta dan keunggulan spiritualnya mengatasi perangkap dari agama yang terorganisir pada zamannya. Jalan-nya sebagian besar ditinggalkan oleh reformis Muslim awal abad ke-20 yang lebih keras dan kurang toleran, seperti mazhab Ibnu Taimiyah. Menggabungkan drama dengan dokumenter, film ini berpendapat bahwa Islamnya Al Ghazali adalah penawar untuk teror jaman ini.











Lintas Islam film, sejarah, tashawuf, tokoh