Islam Untuk Semua Umat

Tiang Dan Nilai Moral Islam (Karakter Seorang Muslim 1)


Nabi SAW telah menyatakan bahwa tujuan dirinya diturunkan di dunia ini dan metode panggilan-Nya kepada umat dalam kata-kata:

"Aku diutus hanya untuk tujuan menyempurnakan akhlak." (Al-Muta)

Itulah pesan besar yang telah meninggalkan kesan yang tak terhapuskan dalam sejarah kehidupan, dan yang disebarkan dan dibawa oleh orang-orang yang berada di bawah pengaruh Nabi Muhammad (SAW) untuk bekerja tanpa henti. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperkuat karakter moral masyarakat sehingga dunia keindahan dan kesempurnaan mungkin akan bercahaya di depan mata mereka dan mereka mungkin akan mencoba untuk mencapai itu secara sadar dan dengan pengetahuan.

Ibadah telah diwajibkan dalam Islam, dan termasuk dalam tiang-tiang penyangga iman. Tetapi bentuk-bentuk ibadah dalam Islam bukanlah semacam praktek mistik yang menghubungkan seseorang dengan sesuatu yang tidak diketahui, misterius, yang merupakan subjek bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang tidak berguna dan gerakan yang tidak ada artinya. Semua bentuk ibadah dalam Islam dirancang sebagai latihan dan pelatihan untuk memungkinkan seseorang mendapatkan moral dan kebiasaan yang benar dan hidup yang benar, dan untuk mematuhi kebajikan ini sampai akhir, apapun yang terjadi pada mereka.

Shalat menjauhkan godaan setan. Shalat adalah bentuk ibadah wajib, seperti latihan terhadap mana manusia tertarik dengan minat dan kemauan. Ia melakukannya terus-menerus, sehingga hidupnya mungkin bebas dari semua penyakit dan tubuhnya dapat menjadi sehat dan kuat.

Kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi - keduanya adalah bukti nyata dari realitas ini.

Ketika Allah memerintahkan shalat wajib untuk didirikan, Dia menyatakan kebijaksanaan-Nya dengan cara ini:

"Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."

Untuk menjauhkan diri dari keji, mungkar dan untuk memurnikan diri dari perbuatan buruk juga merupakan realitas shalat. Dalam Hadis Qudsi disebutkan:

"Aku menerima shalat orang yang tunduk akan kebesaran-Ku, menyayangi makhluk-Ku, tidak bersikeras berbuat dosa terhadap Aku, menghabiskan hari dalam mengingat Aku, dan baik kepada para orang miskin, musafir, orang-orang yang lemah dan menderita."

Zakat merupakan sarana penyucian. Zakat diwajibkan bagi orang yang telah 'memenuhi syarat' (nisab). Ia bukanlah pajak yang dikumpulkan dari kantong rakyat, tetapi tujuan utamanya adalah untuk menabur benih-benih kebaikan, simpati dan kebajikan, dan untuk memberikan kesempatan saling mengenal di antara berbagai lapisan masyarakat dan untuk membangun hubungan kasih dan keramahan.

Tujuan membayar zakat telah dinyatakan dalam Al-Qur'an dalam kata-kata berikut:

"Hai Nabi.! Ambillah zakat dari harta mereka sehingga dapat membersihkan dan mensucikan mereka" (At-Taubah: 103)

Untuk membersihkan diri dari kotoran duniawi dan untuk meningkatkan standar masyarakat akan ketinggian dan kemurnian akhlak adalah hikmah pungutan zakat.

Untuk alasan ini Nabi SAW telah membawanya ke dalam pengertian yang sangat luas, dan membayar zakat telah diwajibkan bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Nabi SAW mengatakan:

"Senyum kepada saudaramu adalah sedekah.. Memerintahkan untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah orang lain untuk melakukan kejahatan adalah sedekah. Memandu seseorang di tempat di mana dia bisa tersesat adalah sedekah. Untuk menghilangkan hal buruk seperti duri dan tulang dari jalan adalah sedekah.. Menuangkan air dari teko ke dalam gelas saudaramu adalah sedekah. Memandu orang buta adalah sedekah untuk Anda'' (Bukhari)

Lingkungan gurun dan kehidupan Badui - suatu lingkungan yang memiliki kebiasaan perang suku dan perkelahian - di lingkungan seperti itulah ajaran Islam disampaikan kepada dunia dan mereka menunjukkan apa maksud dan tujuan ajaran-ajaran itu, dan menunjukkan bahwa ajaran-ajaran ini telah memimpin Arab keluar dari kondisi gelap dan suram.

Puasa adalah batu loncatan untuk Kebenaran. Demikian pula Islam dalam menetapkan puasa wajib. Tetapi tidak dimaksudkan bahwa seseorang harus menjauhkan diri dari keinginan jasmani mereka dan hal-hal dilarang lainnya untuk periode tertentu saja. Nabi mengatakan:

"Bukanlah puasa bila hanya menjaga diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang jahat dan cabul. Dalam keadaan puasa, bila seseorang menyerangmu atau mengajak kau bertengkar, katakanlah:" Saya sedang puasa."

Al Qur'an menyatakan tujuan dari diperintahkannya puasa dalam kata-kata:

"Telah diwajibkan bagi kalian puasa, sebagaimana telah diwajibkan pula bagi mereka (pengikut nabi sebelumnya) yang mendahului kalian, sehingga kalian dapat menjadi orang yang bertaqwa." (Baqarah: 183)

Haji adalah ziarah wajib untuk melemahkan cinta seseorang kepada dunia. Kadang-kadang orang berpikir bahwa perjalanan ke tempat-tempat suci untuk menunaikan ibadah haji, yang diwajibkan bagi setiap muslim yang kaya (mampu), dan termasuk dalam rukun Islam, adalah hanya suatu bentuk ibadah yang tidak ada hubungannya dengan moralitas dan karakter. Ini adalah jelas kesalahpahaman. Memberikan perintah tentang ibadah wajib ini, Allah berfirman:

"Bulan-bulan Haji yang terkenal.. Dalam bulan ini siapa pun yang bermaksud untuk melakukan haji harus tidak memanjakan keinginan seksual, bertindak jahat, dan bertengkar selama haji. Apapun tindakan yang kau lakukan akan diketahui Allah. Bawalah perbekalanmu untuk perjalanan (haji), dan perbekalan terbaik adalah taqwa!. Takutlah kepadaku, hai orang-orang yang berakal " (Baqarah: 197)

Itu hanyalah yang utama dari bentuk-bentuk ibadah yang sudah dikenal dan umumnya dipraktekkan dalam Islam dan mereka merupakan tiang dasar. Mereka menunjukkan kepada kita apa hubungan mendalam yang ada antara agama dan moralitas dan seberapa kuat dan tahan lama hubungan ini. Bagaimana bervariasinya bentuk-bentuk ibadah dalam roh dan penampilan mereka, tetapi dengan maksud dan tujuan seberapa dekat hubungan mereka satu sama lain, dimana Nabi suci menyatakan tujuan utamanya.

Oleh karena itu, shalat, shaum (puasa), zakat, haji dan bentuk-bentuk ibadah seperti ini adalah batu loncatan untuk kesempurnaan sesungguhnya, dan merupakan sarana kebersihan dan kemurnian yang membuat hidup aman dan megah. Atas atribut tinggi dan kualitas mulia yang merupakan bagian mutlak dan konsekuensi dari bentuk-bentuk ibadah, mereka telah diberikan tempat yang tinggi dan sangat penting dalam agama Allah.

Jika bentuk-bentuk ibadah tidak dapat memurnikan hati manusia, jika mereka tidak menghasilkan kualitas terbaik pada mereka yang mengerjakannya, dan jika mereka tidak meningkatkan dan membuat hubungan antara Allah dan hamba-Nya menjadi lebih kuat, maka tidak ada yang tersisa untuk manusia kecuali kehancuran dan malapetaka.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya, orang yang muncul kepada Tuhannya sebagai seorang kriminal, adalah neraka baginya, di mana ia tidak akan mati dan tidak akan pula ia hidup. Dan mereka yang muncul di hadapan-Nya sebagai orang beriman, yang telah melakukan perbuatan baik - untuk orang-orang seperti itu adalah kedudukan tinggi, surga yang hijau, di bawahnya sungai yang mengalir, mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya.. Mereka adalah orang-orang yang memurnikan diri.

Ini adalah balasan untuknya" (Taha: 74-76)


Oleh Syekh Muhammad Al Ghazali
http://lintas-islam.blogspot.com
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori akhlak dengan judul Tiang Dan Nilai Moral Islam (Karakter Seorang Muslim 1). Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://lintas-islam.blogspot.com/2011/03/tiang-dan-nilai-moral-islam-karakter.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Lintas Islam - Friday, March 11, 2011

1 Komentar untuk "Tiang Dan Nilai Moral Islam (Karakter Seorang Muslim 1)"

The Golden Manners Way said...

Tulisannya bagus... terus optimalkan ya... berikut blog paling lengkap dan inspiratif yang menerangkan akhlak mulia... http://goldenmanners.blogspot.co.id/